Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Desember 2008

SeHari BerSama...




heheh....foto-foto dulu ah...thx to pak tukang ojek yang dah mau poto-in kita ^_^

Tanggal 10 Desember '08 kemarin, akhirnya aku ketemu lagi dengan dia ya diSurabaya tepatnya...Pulang kuliah seharusnya jam 10 pagi, dengan rencana awal sepulang kuliah langsung ketemu...ehh ternyata molor :( Dan baru bisa ketemu sekitar jam 3 sore.
Tujuan pertama wisata ke Lumpur Lapindo...nyampe sana baunya gas yang cukup cukup menyengat dihidung hmmff...Belum lama disana ya kurang lebih 20 menit ehhhh hujan mulai turun dweeeh...ya mungkin karena bulan Desember (De=Gede-Gedene Sember=Sumber...heheh mekso banged).....perjalanan dilanjutkan pulang karena hujan cukup deras di Sidoarjo...ampe mataku kriyep-kriyep lihat jalan raya sepanjang pulang...hiks...

poto lainnya...
Wisatawan Lumpur... :D


Keganasan Lumpur.... :(

IkuT Prihatin...





Ajaib, ulah manusia apa emang bencana alam...who knows??

Sabtu, 29 November 2008

Batiruh*

“Jika ada waktu senggang, tidurlah”, demikian pesan salah satu guru saya saat di bangku kuliah dulu. Kenapa guru saya memberi saran demikian? Alasannya, karena seorang dokter harus siap bertugas 24 jam sehari, entah jam 6 pagi, jam 10 malam atau mungkin jam 2 dini hari saat mata seharusnya beristirahat. Maka dari itu, setiap ada kesempatan untuk beristirahat, maka seorang dokter harus menggunakannya sebaik mungkin.

Hari Jum’at, setelah sms-an dengan yayang, atau tepatnya jam 11 malam, ada orang yang mengetuk pintu rumah dinas tempat saya tinggal. Ternyata ada tamu dari blok D Kiri.

“Yang sakit siapa pak?”, tanya saya.

“Tetangga saya dok…”

“Sakitnya apa?”

“Katanya tadi habis jatuh…terus sempat kejang-kejang”

“Lha terus pasiennya masih sadar gak?”, tanya saya.

“Wah…gak tahu dok…saya tadi Cuma disuruh manggil dokter. Saya malah belum lihat orang yang sakit”

Tipikal orang Terusan Tengah nomor satu: tidak membawa cukup informasi mengenai pasien bila datang menghubungi dokter.

Dengan membawa peralatan dan obat seperlunya, saya lalu berangkat ke blok D Kiri dengan diantar orang tersebut. Jarak dari rumah dinas (letaknya di blok B Kiri), dengan blok D Kiri sekitar 5 km. Untungnya, malam itu tidak hujan, jadi jalan yang kami lalui tidak terlalu becek. Jalanan di Terusan tengah, yang menghubungkan blok yang satu dengan blok yang lain, beceknya bukan main sehabis hujan deras.

Sesampai di rumah pasien, saya lihat seorang laki-laki berusia 60 tahun-an tergolek di tempat tidur dengan kondisi setengah sadar. Saat pasien miring ke kanan, saya melihat ‘sesuatu’ keluar dari duburnya (baca:tahi!). Watttaaaa….

Saya minta salah satu keluarga pasien untuk membersihkan duburnya terlebih dahulu dan memindahkan pasien ke ruang tengah. Vital sign segera saya ukur: tensi 60/40, nadi cepat dan halus, sementara ujung tangan dan kakinya teraba dingin. “Waduh…ini sih syok namanya!”, batin saya.

“Mas, pasien ini gawat! Perlu segera diinfus. Saya harus segera ambil infus di Puskesmas. Bisa antarkan saya balik ke blok B Kiri lagi?”, tanya saya.

“Bisa ja dok…Mari…”, jawab orang yang tadi mengantar saya.

“Sementara saya ambil infus, salah satu orang mengangkat kaki seperti ini ya”, kata saya sambil mengangkat kedua kaki pasien.

Setelah mengambil beberapa botol infus RL, infus set, abocath dan tetek bengek lainnya, saya blalu mencoba memasangnya begitu sampai di rumah pasien (lagi). Dan ternyata saudara-saudara…susah sekali!!! Entah sudah berapa kali tusukan yang saya lakukan, tetap tidak berhasil juga. Setidaknya tiga buah abocath sudah saya coba: ukuran 18G sebuah dan sisanya berukuran 20G.

“Ya Allah…kenapa susah sekali?”, pikir saya.

“Coba yang sini dok”, kata salah seorang keluarga pasien sambil menunjuk sebuah pembuluh darah di tangan dekat lipatan siku.

“Itu terlalu kecil pak…kalau saya pasang infus di situ, pembuluhnya bisa pecah”, kata saya.

Tapi berhubung sudah tidak ada pilihan pembuluh darah yang lain, akhirnya pembuluh itu saya coba. Dan alhamdulillah…infus berhasil masuk! Langsung saja saya gerojog dengan Ringer Laktat (RL). Dan saat botol infus yang pertama habis, pasien tiba-tiba kejang.

“Wah, tanda-tanda sakaratul maut nih?!?”, batin saya.

“Salah satu tolong bisikkan ‘Allahu Akbar’ atau istighfar ke telinga pasien pak!”, kata saya.

“Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar…”, demikian kalimat takbir berkumandang di rumah pasien malam itu. Saya hanya bisa pasrah. “Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan”, pikir saya.

Tapi kejang kemudian berhenti. Ajaibnya, tensi malah naik menjadi 100/60, walaupun beberapa menit kemudian turun lahi ke angka 80/60. Saya sedikit lega.

“Kakek ini sebaiknya dirujuk ke rumah sakit Kapuas pak, soalnya tensinya sudah agak stabil”, kata saya.

“Bbbbbbbb…bagaimana….kkkkkkalau…dddiiiirawat…ddddii Pppuskesmas saja ddddokk?”, kata keluarga pasien, yang ternyata menderita gagap.

“Kalau menurut saya, pasien ini sebaiknya langsung dirawat di rumah sakit. Di sana, fasilitas dan obat-obatan lebih lengkap”, kata saya.

“Ttttttapi…kkkkkkami…ttttidak punya…cccccukup…uang dok. Ggggabah…kami…ttttttidak laku…ddddijual….”, kata keluarga pasien.

Tipikal orang Terusan Tengah nomor dua: enggan dirujuk ke rumah sakit dengan alasan biaya.

Akhirnya, saya ‘terpaksa’ merawat kakek ini di Puskesmas. Pasien tiba di Puskesmas sekitar jam 4 pagi. Tensinya masih bertahan di angka 80/60. Tapi ujung kaki dan tangannya sudah agak hangat. Capillary Refill Time-nya juga sudah kurang dari 2 detik.

Saya pun pulang ke rumah dinas dengan maksud untuk tidur sejenak. Tapi perut yang keroncongan membuat saya terpaksa menunda keinginan itu dan bergegas membikin semangkuk mie rebus. Hingga ada sms dari yayang: “Maaf sayang, semalem aku ketiduran, belum sempat bales sms…”

Kawan, ternyata Indomie rasa Soto Banjar Limau Kuit itu kalau dimakan saat pagi hari, terlebih sambil membaca sms dari pacar, rasanya huenak sekali!

* Bahasa Dayak. Batiruh artinya tidur.

Jumat, 07 November 2008

Kuyakin Cinta

Disuatu malam jam 19.43 wib, di J.CO Tunjungan Plaza Surabaya, terjadi percakapan antara dua manusia.

Andri:"Dik..."
Fina : Ya mas...
Andri:"Aku mau ngomong sesuatu"
Fina : apa seh?
Andri:"mmmm...."
Fina : opo toh yo...
Andri:"Kamu maw gak jadi pacarku?"
Fina : hmmm...mbuh...
Andri:"kok mbuh to?"
Fina : huhu...mbuh
Andri:"Kamu ragu-ragu ya?"
Fina : ndak tau... :p
Andri:"Ntar baterai laptopmu buruan habis loh...Eh, donatnya lumayan enak loh... :D"
Fina : ya ndak papa...
Andri:(memandangi fina dengan sayu)
Fina : (memandangi donat...kok apik bentuknya :D)
Andri:"km grogi ya dik?"
Fina : grogi campur takut...huaaa...
Andri:"takut napa?aku kan gak nggigit..."
Fina : takut ngasih jawaban yang salah maksudnya....bukan ma orangnya....
Andri:(perasaan jadi nggak enak)
Fina : nggak enak gimana? harusnya aku yang nggak enak....takut salah
Andri:"dengarkan kata hatimu...(hihihi...sok puitis :p)
Fina : (diam)
Andri:"berarti ditolak nih? Gak pa pa kok...nyantai aja lagi... :p"
Fina : lha aku ndak bilang gitu toh...sapa bilang diam = menolak ?
Andri:"dah gini aja...kalo kamu nerima, makan donat yang putih....kalo kamu nolak, makan donat yang coklat...gampang kan :D"
Fina : weeehh...ndak bisa gitu yow....lha yang donat putih itu pilihanku waktu pesen tadi og....jadi pastinya aku makan yang putih....hwehwe...
Andri:"yes!"
Fina : yess kenapa mas???
Andri:"Itu artinya kamu sebenarnya suka tapi gak berani mengungkapkan (sambil deket-deket fina biar kesetrum) :p"
Fina : weh....kok yakin banget seh mas???..(mikir mode on)
Andri:"kalo gak diterima aku gak mau ketemu kamu lagi (muka cemberut setengah mengancam) (\/)"
Fina : lha aku neh masih takut juga setengah nggak yakin....takut kamu cuma main-main...lha kan kita kenal masih seumur jagung kok tiba-tiba kamu "ngetik" gitu ke aku....(shock...merem melek)....toh mas juga belum kenal aku banget kan, begitu sebaliknya....
Andri:"lah...justru itu...kuharap dengan ini kamu tahu maksud hatiku mendekatimu.Kalo kamu gak bisa jawab sekarang gak pa pa kok...tapi setidaknya berilah aku pertanda, supaya aku gak salah jalan nantinya :p"
Fina : emang apa toh maksud hatimu mendekatiku...? (muka oon...pura2 nggak tau)
Andri:"mencari teman untuk menemani sisa hidupku...hwehe...tapi kalo kamu masih butuh waktu gak usah dipaksain...ntar km malah kecewa loh @.@"
Fina : (akhirnya aku melahap donat tiramisu-ku....)jangan sisa hidup kayak tinggal bentar aja...hush...mas, kalau misal aku bilang iya kita pacaran gimana?kan kamu jauh,emang kamu bisa?...(sambil liat mas andri yang mukanya mulai kusut sut kayak kertas diuntel-untel huhu)....
Andri:"lho...justru aku yang harusnya bilang gitu...as you say a moment ago, wanita itu sangat butuh perhatian...dan sepertinya aku mungkin gak bisa ngasih perhatian yang kamu butuhkan. makanya aku ngasih kamu waktu buat berpikir. ok? kita posting skr aja ya..."
Fina : lha...bener dah mau diposting sekarang???....lha aku belum kasih jawaban pasti lho...gimana?
Andri:"kalo nunggu jawaban darimu bisa-bisa subuh baru posting dik :D"
Fina : hmmm...(menghela nafas panjang)...ya aku mau, kita jalani aja dulu...tapi kamu tau kan kalo aku bukan cewek yang 100% nggak posesif seperti yang kamu mau...hwahwahaha....(masih tetep liat muka bengongnya mas andri)

***

Andri said:
Yah, begitulah. Pada akhirnya percakapan itu berakhir pada jam 20.40 wib. Dan saya cukup beruntung tidak menunggu terlalu lama untuk menunggu jawaban dari 'dia'. Mendapatkan hati seorang wanita tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kuman mycobacterium tuberculosis bisa ditaklukkan dalam 6 bulan, tapi hati wanita?Bisa sebulan, setahun, seabad...who knows?

Dan saya baru saja mengawali kisah cinta saya bersama 'dia'. Doakan saja semoga saja langgeng.Selamat menikmati blog baru saya, dengan rasa yang berbeda tentunya.

Fina said:
nggak jadi nambahin wis...^berharap semua berjalan lancar aja^...hihihih...

Advertisement